FESTIVAL MEDIA 2013 CANTIK DAN MENGINSPIRASI

By poetry - 03.02

 



Menjadi bagian dalam perhelatan besar media tentunya menjadi kebahagiaan dan kehormatan bagi saya. Iya apalagi kalau bukan Festival Media 2013. Event besar yang digelar di ulang tahun ke 19 Aliansi Jurnalis Independen, yang bukan saja memberikan pelajaran tentang seluk beluk dunia media, jurnalistik, tapi pembelajaran bahwa seorang jurnalis adalah seorang pejuang (pahlawan atau hero). Dan pembunuhan ataupun tindakan sewenang-wenang terhadap jurnalis berarti pembunuhan atau penghilangan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar dan aktual.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta
Gubernur DIY Sri Sultan HB X selepas memberikan sambutan
Festival Media 2013 di Yogyakarta yang berlangsung selama dua hari Sabtu dan Minggu 28 &29 September 2013 bertempat di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) atau eks Gedung Purna Budaya UGM ini merupakan event kedua setelah sebelumnya berlangsung di Bandung. Tujuan digelarnya acara adalah untuk mendekatkan jurnalis, media massa, dan masyarakat. Dan bukan itu saja sebagai momentum pengingat akan makna kebebasan pers dan berekspresi maka tema Festival Media Yogyakarta kali ini adalah “Mencari Kebenaran di Era Banjir Informasi”. 

Era Banjir Informasi?
Sebelum kita bahas tentang apa itu AJI, Festival Media dan kegiatannya, coba kita renungkan terlebih dahulu tema yang diambil dari kegiatan ini, kalo kita bicara soal banjir air misalnya, dampak yang dialami masyarakat adalah pastinya rumah penduduk rusak, banyak penyakit, kehilangan harta benda, dll. Sedangkan jika banjir informasi apa yang akan terjadi? Iya masyarakat menjadi bingung.  Karena saat ini kita bisa mendapatkan informasi, berita dari manapun, tidak hanya dari media konvensional saja, tapi bisa media cetak, media elektronik. Dan saat ini di era digital kita bisa mendapatkan informasi atau pengetahuan dari internet, bahkan handphone, smartphone, berbagai produk IT lain. Padahal kalo ditilik dari isi berita yang disajikan kita belum tau apakah itu termasuk fakta, fiksi, atau rumor saja. Nha, agar kita melek informasi yang benar dari berbagai media, jangan sampai ketinggalan lagi event Festival Media mendatang yang rencananya digelar AJI di Surabaya.

SEKILAS ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN (AJI)
Sebelum berbincang lebih jauh tentang kegiatan apa saja yang berlangsung, tidak afdol kalau kita tidak membahas sekilas tentang Aliansi Jurnalis Independen (AJI) sendiri . AJI merupakan komunitas pers Indonesia yang cikal bakalnya berawal dari pergolakan dan perlawanan terhadap kondisi saat itu diantaranya pembredelan Detik, Editor dan Tempo 21 Juni 1994 pada masa rezim orde baru. Melalui aksi solidaritas yang dilakukan sekitar 100 orang terdiri dari jurnalis dan kolumnis di  Sirnagalih Bogor pada tanggal 7 Agustus 1994 mereka berkumpul dan mendeklarasikan beberapa tuntutan diantaranya dipenuhinya hak publik atas informasi, menentang pengekangan pers, menolak wadah tunggal untuk jurnalis, serta mengumumkan berdirinya AJI. 

Ada beberapa rangkaian kegiatan pada Festival Media Yogyakarta ini antara lain pameran foto, berbagai workshop, talkshow, lomba-lomba, job fair, pemutaran film, hiburan dan pesta kuliner lokal.

Festival Media 2013 digelar AJI di PKKH UGM,  Jl. Bulaksumur Catur Tunggal Depok Sleman DIY, pada Hari Sabtu, 28 September 2013 pk 10.00wib dibuka oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan HB X, beliau berharap bahwa media massa mampu menjadi kontrol terhadap proses  pemilu 2014 dan terpenting menggempur praktik money politik. Bukan itu saja melalui ajang festival media menjadikan publik atau masyarakat menjadi individu yang pandai, kritis, memiliki aspek intelektualitas. Karena Festival media bukan hanya sebagai ajang interaksi antara jurnalis, media massa, dan masyarakat. Tetapi  media massa membantu masyarakat memilih calon pemimpin terbaik bagi bangsa ini. Berikut ini sambutan dari Sri Sultan yang luar biasa.
Keprihatinan terhadap kebebasan pers saat ini terlebih di era reformasi. Bagaimana sesungguhnya potret kebebasan pers itu? Banyaknya informasi yang ada namun tidak berkualitas, lemahnya pemahaman etik jurnalis, kesejahteraan minim, adanya monopoli perusahaan media atau kepemilikan media terkonsentrasi  pada sejumlah konglomerat membuat banyak keprihatinan dari semua kalangan, regulasi masing mengekang, dan anggapan belum kuatnya pondasi kebebasan pers, dan kemajuan teknologi informasi.

Melalui Festival Media 2013, AJI mengajak  masyarakat untuk memanfaatkan kebebasan berekspresi agar mampu menghasilkan informasi yang terpercaya dengan cara  mempelajari berbagai kaidah jurnalistik, sedangkan para jurnalis bekerja professional menjunjung kode etik, memahami kode jurnalistik, paham UU Pers, UU ITE, UU Penyiaran, sehingga mampu menghasilkan informasi yang akurat dan terpercaya, sekaligus memanfaatkan teknologi informasi secara bertanggung jawab. Dan peran media massa untuk mampu menjadi acuan informasi yang benar.

Ketika Anda memasuki kawasan Festival Media, dihalaman PKKH terdapat pameran media yang terdiri sekitar 50 anjungan atau stand, terdiri dari media komunitas,media lokal, media nasional. Terdapat lembaga nasional dan internasional yang turut terlibat.

penari angguk
Saat memasuki gedung PKKH penari angguk menari berjejer di pintu masuk. Kemudian 4 ruangan dibagi menjadi Hall Udin, ruang Tirto Ardi Suryo, Ruang Muchtar Lubis, dan Ruang SK Trimurti. 

Ketika memasuki ruanagan kita disuguhi pameran fotografi jurnalistik menampilkan pameran foto terkait peristiwa kasus Udin, peristiwa bencana, gempa bumi dan merapi, serta karya jurnalisme yang lain.

Beberapa agenda yang sempat saya ikuti antara lain: Talkshow Nasib Kasus Udin. Kasus pembunuhan wartawan Fuad Muhammad Safrudin (Udin) tahun 1996, yang masih menyisakan pertanyaan besar tentang siapa pelaku pembunuhnya, termasuk apakah POLRI sudah bekerja secara optimal menuntaskan kasus ini. Menghadirkan narasumber diantaranya Heru Prasetyo, Dwi Sumaji dan Marsiyem. Terakhir dilakukan pemberian tali kasih kepada putra almarhum Udin. Dengan mengingat kasus ini memberikan optimisme bagi kita (masyarakat,generasi masa depan) untuk bersemangat menuntaskan kasus seperti ini dan mencegah peristiwa yang sama agar tidak terjadi kembali. 

Berikutnya, pameran fotografi jurnalistik dapat kita nikmati ketika memasuki gedung PKKH UGM, yaitu  penampilan karya pameran foto kasus pembunuhan wartawan udin, pameran foto erupsi merapi, dan gempa bumi , dan berbagai karya jurnalisme. Bahwa Foto Mampu Berbicara tentang sebuah peristiwa.
Selanjutnya, launching buku dan talkshow bedah berita televisi menghadirkan narasumber Bapak Nurjaman Mochtar (Pemred SCTV & Indosiar) Rahmat Arifin perwakilan KPID Yogya, dan R.Kristiawan (penulis buku Penumpang Gelap Demokrasi sebuah kajian Liberalisasi Media di Indonesia yang mengkritisi bahwa penumpang gelap itu adalah para pemilik media yang lebih berorientasi untuk melebarkan kekuasaan). Pesan yang dapat diambil adalah point pertama dengan banyaknya media yang kepemilikannya dimiliki segelintir orang, apakah di tahun 2014 akan menimbulkan friksi? Jawabannya: kita tidak perlu khawatir dengan hal itu faktanya, belajar dari iklan partai politik beberapa tahun lalu, frekuensi capres, bakal calon pemimpin baik pusat, daerah yang muncul ditelevisi dominan atau sering,  nyatanya tidak berpengaruh signifikan pada keputusan masyarakat atau pemilih untuk memilih seorang calon pemimpin tersebut. Terlebih lagi bisnis industri media masih berorientasi pada raihan profit atau keuntungan. Point kedua saya setuju dengan Bapak Nurjaman, perlu adanya lembaga riset pembanding (saat ini hanya AC Nielsen bagi industry media). Point ketiga Konsep Berita yang biasanya 5W+1H+(tambah) 1 S (so what atau apa manfaatnya), sedangkan untuk berita televisi butuh 6W yaitu 5W+1Wow (sesuatu yang menarik). Point keempat, perlu adanya manajemen control system sebuah program, termasuk peran regulasi, UU Penyiaran, UU Pers, dan UU ITE. Point terakhir semoga Komisi Penyiaran Indonesia mampu bekerja optimal, proaktif agar program acara siaran televisi mampu mencerdaskan dan menginspirasi masyarakat. Terkait dengan revisi DPR tentang UU Penyiaran diharapkan tidak menjadikan KPI sebagai badan yang mandul hanya bertugas mengawasi isi siaran saja tanpa bekerja sesuai visi globalnya. 

Tidak hanya dua acara itu saja yang bisa diikuti, ada beberapa talkshow dan workshop yang menarik untuk saya, antara lain workshop bisnis lewat media online, Menjadi Presenter TV, Bedah Berita Televisi, Jurnalisme warga dan blogger yang beretika, Penulisan Travelling, Workshop Membuat Film Pendek,dll. Wach sepertinya dua hari namun bekal ilmu yang saya dapatkan untuk meningkatkan kompetensi saya di bidang ini tidak dapat dihitung.
Workshop Penulisan Kreatif
salah satu workshop bertempat di Hall Utama (Hall Udin)

Putri dan Bapak Norman Goodman (VOA Indonesia)

Putri, Mas Ahmad Fuadi (penulis Negeri 5 Menara), Bapak Norman Goodman

JURNALISME WARGA  
Saat ini berkembangnya teknologi informasi memicu berkembangnya jurnalisme warga, termasuk didalamnya dunia blog salah satunya www.poetryana.com. Sehingga hadirnya kedua realitas ini baik realitas berita dan realitas sosiologis menjadikan kehidupan lebih demokratis. Oleh karena itu melalui workshop ini semua masyarakat bisa belajar, agar nantinya seluruh aktivitas jurnalisme warga yang dihasilkan berupa produksi berita berbobot bernilai positif, bukan hanya dibutuhkan oleh masyarakat, tapi penting, menarik, enak dibaca, karena masyarakat sendiri (jurnalis warga) dituntut mampu melakukan reportasi, pengumpulan data, dan wawancara dengan baik. Dengan mengikuti workshop ini peserta mendapat pelajaran cara reportase yang benar, menulis berita di dunia maya, membuat blog yang menarik, paham kode etik jurnalistik, aturan hukum, aktivitas jurnalisme warga yang lebih berkualitas.

Alhamdulillah acara berjalan sukses. Terimakasih kepada teman-teman AJI, Mas Hendrawan Ketua AJI Yogyakarta dan Mas Chandra atas kesempatannya. Dan seluruh sponsor yang telah mendukung.
Putri bersama Ketua AJI Yogya
Putri dan panitia

Untuk mendukung penampilan saya, thanks untuk kosmetik halal, karena halal is my life sehingga saya tampil prima setiap saat. Dan cantik menurut saya ketika kita bisa membuat orang tertarik untuk mengikuti kegiatan kita. Cantik artinya juga bisa memberikan inspirasi lewat aktualisasi yang kita lakukan. Cantik itu mampu berbagi bagi sesama, termasuk berbagi informasi dan ilmu yang sudah kita dapatkan melalui berbagai kegiatan yang kita ikuti. Oleh karena itu saya merasa cantik, ketika mampu menginspirasi orang-orang terdekat untuk tergerak hati menuju sebuah perubahan besar yaitu Arah Transformasi Kebaikan.
sumber: festivalmedia.info

  • Share:

You Might Also Like

7 Comments

  1. ^_^Seru....event Festival Media 2013-nya...,
    Perkembangan informasi yang luar biasa cepat penyebarannya namun tidak diimbangi pemahaman masyarakat akan penting/tidaknya informasi yg yang diterima , apakah ini fakta/gosip/rumor/ atau hiburan semata masih sangat ambigu bagi masyarakat luas, utamanya bagi anak-anak yang gemar menonton tayangan tv apakah gosip/ sinetron/ tayangan dari youtube yang sama sekali mereka tidak paham itu baik/tidak, benar/ atau salah. contoh : virus "istilah sok keren dan pengen tampak intelek vicky" yang mewabah, ternyata saat dimunculkan dimasyarakat , bagi yang mengerti dengan bahasa inggris dan paham istilah tsb menjadi bahan lelucon atau ejekan saja.....^_^, tapi ada kejadian saat dimunculkan dalam ujian bahasa inggris ternyata di dalam pemahaman dan pikiran anak sekolah , jawaban vickylah yang benar,.....(dengan alasan karena tampak pintar menggunakan istilah-istilah yang asing bagi mereka).....(."Apa kata Dunia pendidikan kita ya"...????
    Harapan>>> acaranya dapat menambah wawasan masyarakat akan media,informasi yang baik dan terpercaya.

    BalasHapus
  2. Semangat mbak Poet nulisnya, biar aq juga semangat mulai nulis riset qu lagi he....he....he......

    BalasHapus
  3. masih tetep langsing hehehe ... ayo keep posting yaa

    BalasHapus