BBM (Benar Benar Manusia)

By poetry - 23.37

“Turunkan harga, beri kami pekerjaan, pasti akan kuangkat Engkau jadi Manusia Setengah Dewa….” ini adalah sepenggal lagu yang dilantunkan oleh Iwan Fals yang sarat dengan kritik sosial. Kalau kita mencermati kondisi sekarang ini, apakah ada figur Manusia Setengah Dewa dalam dunia nyata? Kalaupun benar ada, mengapa masih banyak tekanan sosial, ekonomi, politik, hukum, psikologi dimana-mana, rakyat mengeluh akan krisis yang ada, krisis ekonomi semakin mendera, krisis sosial melanda, krisis moral dan krisis kepercayaan membuat orang linglung mana yang harus dipegang ketetapannya. Jikalau pemerintah sebagai pemegang kuasa sudah bertindak maksimal, pertanyaannya yang muncul adalah kinerja apa yang sudah dilakukan Pemerintah sekarang ini, langkah nyata apa yang sudah diwujudkan. Rencana strategis apa yang sudah terbentuk untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera. Di satu sisi situasi yang membelit kehidupan kita diberbagai segi / aspek kehidupan hendaknya bisa dicermati secara positif yakni rasa optimis, sehingga selalu mampu mencari solusi efektif, kreatif, sistematis dalam menghadapi sebuah permasalahan. Karena sikap yang terbuka, positif, jujur, moral value akan perkembangan zaman, teknologi dan ilmu pengetahuan membuat kita berani untuk menghadapi tantangan dimasa depan, apalagi sudah memiliki formula-formula canggih untuk memecahkan permasalahan kehidupan ini.

Permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia sekarang ini tidak lepas dari berbagai bentuk mikro himpitan ekonomi, antara lain: kenaikan Bahan Makanan Pokok <>, Bahan Bakar Minyak , Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), Tarif angkutan, hingga berkembang rumour TELKOM yang juga gatal untuk menaikkan tarif-nya. Masih banyak lagi kenaikan yang muncul. ( hanya daya beli masyarakat saja yang tidak naik…). Stockholders / Operators (Pertamina, PLN, dsb) berlomba-lomba menaikkan tarif dengan alasan; akibat kebijakan-kebijakan yang diambil Pemerintah, salah satunya mengurangi dan mengalihkan subsidi-nya di post tertentu misal kompensasi BBM (subsidi BBM dikurangi untuk dialihkan ke post lain ) atau pemberian Subsidi Langsung Tunai (SLT) untuk rakyat miskin. Padahal kalau dirata-rata penduduk Indonesia mayoritas dihuni masyarakat menengah ke bawah dan rakyat miskin. Yang menjadi pertanyaan adalah apa (baca: rencana strategis) yang dilakukan pemerintah sekarang ini? Dari menaikkan harga BBM, dengan dalih disebabkan harga minyak dunia semakin melambung, membuat pemerintah melalui operator sumber daya minyak-nya (Pertamina) harus memutar otak agar pembelian bahan bakar minyak bumi bisa tercukupi untuk kebutuhan primer, sekunder masyarakat, dan ketersedian dana untuk melakukan transaksi dengan negara pengekspor bahan mentah minyak. Ironis memang, Indonesia kaya akan sumber minyak bumi tapi menjadi negara pengimpor sumber daya alam (Minyak) hanya dikarenakan ketidakmampuan untuk memperbaharui Sumber Daya Alam dan mengelola dengan baik (transparancy, efective) sumber alam yang ada.

BBM ternyata memiliki magic kuat sebagai kunci kestabilan negara, dari masalah BBM orang jadi kalap membakar gedung, dari masalah kelangkaan BBM orang “bingung” (melakukan panic buying) mencari sumber energi, pabrik-pabrik mandeg beroperasi karena harga BBM yang melambung tinggi.

Meskipun pemerintah sudah mengambil langkah jangka pendek mensuplay kebutuhan primer tersebut akan tetapi masih juga terjadi kelangkaan BBM, karena stock tidak mencukupi 22 hari. Oleh karena itu solusi yang terpenting adalah bagaimana para Ahli (Akademisi),Stockholders (Businessman), Government (Pemerintah) didukung oleh rakyat bersama-sama dan bersinergi untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan mencari energi alternatif lain pengganti energi BBM. Energi tersebut diantaranya batu bara, biodisel; dari kelapa sawit, gasohol dari singkong, dsb-nya. Saat ini energi dari batubara sudah banyak digunakan terutama industri rumah tangga (hilir) dan industri hulu. Mengingat cadangan batubara baru habis dalam 147 tahun lagi sudah selayaknya kalau pemerintah akan lebih memprioritaskan penggunaan batubara untuk pembangkitan tenaga listrik, transportasi, dan industri. Namun yang perlu diingat “Memayu Hayuning Bawana” perlu dicanangkan sebagai langkah pelestarian alam agar sumber daya alam bisa terus diperbaharui agar tidak cepat habis. Diharapkan di tahun mendatang proporsi penggunaan minyak bumi Indonesia akan turun menjadi 41 persen dan batubara akan naik menjadi 34 persen.

Mungkin bagi daerah yang memiliki persediaan sumber daya alam ini (baca: batubara) seperti Sumatera Selatan bukan menjadi masalah, tapi bagaimana daerah yang tidak memiliki persediaan sumber daya alam; (Yogyakarta misalnya), ini yang perlu difikirkan. Bagaimana pembagian pemanfaatannya sehingga rata dan berkeadilan. Ini merupakan tugas pokok pemerintah, terkait otonomi daerah dan juga meningkatkan hajat hidup orang banyak.

Selain Batubara, energi Biodiesel mulai dikembangkan. Biodisel sendiri adalah bahan bakar berbasis minyak yang berasal dari sumber terbaharukan. Sumber ini berasal dari minyak tumbuh-tumbuhan atau lemak hewani. Sejauh ini biodisel yang sudah dikembangkan diantaranya adalah minyak jarak, kelapa sawit alias crude palm oil (CPU) atau bahkan gasohol. Gasohol sendiri merupakan paduan dari gasoline alkohol, yakni hasil percampuran bensin biasa dengan hasil olahan singkong. (sumber; Wikipedia)

Energi Biodiesel Gasohol ini memang sudah diujicobakan pada awal tahun ini. Bahkan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman turun tangan untuk membuktikan kevalidan-nya. BBM bernama Gasohol BE-10 merupakan hasil studi penelitian tim peneliti di Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) BPPT Lampung selama bertahun-tahun. Tidak hanya itu saja, kini Biodiesel aktif dikembangkan oleh para ahli bahkan tim peneliti dari program Pascasarjana Teknik Kimia UGM yang berhasil menciptakan minyak goreng bekas menjadi bahan Biodiesel. Investasi penunjang yang dibutuhkan, diantaranya perencanaan anggaran pemeliharaan, ketersediaan tenaga, dan tersedianya lahan pertanian yang ditanami jarak pagar (tanaman penghasil minyak jarak). Jika dihitung secara kasar untuk memproduksi 100 ribu barel per hari Biodiesel, setara dengan kebutuhan solar bagi rakyat miskin, dibutuhkan lahan produktif bagi penanaman jarak pagar seluas 3 juta hektare. Kendala yang dialami sekarang ini adalah ketersediaan lahan yang siap dan cocok ditanami, karena lahan yang ada hanya lahan kritis saja. Oleh karena itu PR besar bagi pemerintah untuk mewujudkan faktor-faktor penunjang demi terwujudnya energi Biodiesel sebagai pengganti BBM yang saat ini tidak mungkin dapat diandalkan lagi. Ini adalah pil pahit yang harus ditelan jika ingin menghentikan kecanduannya (sakau) dengan BBM yang semakin hari membuat bangsa Indonesia makin terpuruk karena sumber energi habis dan musnah. Bagaimana dengan nasib generasi mendatang? Ini adalah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban tapi usaha keras / ikhtiar lahir, doa yang kuat dan mantap, serta kerjasama membangun bangsa, salah satunya mengembangkan energi alternatif selain BBM.

Untuk pengembangan ini dibutuhkan “Manusia-Manusia Setengah Dewa” yang rela, berbesar hati mendedikasikan diri dan hidup-nya untuk keberlangsungan bangsa dan negara, melalui bidang dan keahliannya masing-masing, melalui kodrat dan iradat-nya sendiri-sendiri. Sesungguhnya bagi mereka pejuang tanpa pamrih, pemimpin yang sensitif akan kondisi akar rumput, ibu yang qanaah & success membesarkan; mendidik anak; (mampu berperan di sektor domestik maupun public), generasi muda yang aktif bergerak (baca: bekerja & berkreasi) semuanya tetap istiqomah. Karena sesungguhnya kita semua adalah “Manusia Setengah Dewa” tentu saja jika mampu; berperan aktif untuk kepentingan sosial dan diri sendiri; berjalan sesuai dengan rel Ketuhanan dan Kemanusiaan. Jadi bukan BBM “Bahan Bakar Minyak” yang sangat kita butuhkan tapi BBM “Benar-Benar Manusia” yang kita butuhkan.

(PAN,Yogyakarta, February 14th,2006)

  • Share:

You Might Also Like

4 Comments